Kamis, 05 Juli 2012
Ikan Baronang
Baronang (Siganus Sp.)adalah ikan laut yang termasuk famili Siginidae. Ikan beronang dikenal oleh masyarakat dengan nama yang berbeda-beda satu sama lain seperti di Pulau Seribu dinamakan kea-kea, di Jawa Tengah dengan nama biawas dan nelayan-nelayan di Pulau Maluku menamakan dengan sebutan samadar. Baronang ditemukan di perairan dangkal laguna di Indo-Pasifik dan timur Mediterania. ikan ini dalam bahasa inggris disebut rabbitfish hal ini karena pemakan tumbuh-tumbuhan (rumput laut) yang rapi seperti dipangkas mesin rumput kecil. Baronang merupakan salah satu ikan yang menjadi favorit bagi para pemancing di laut.
Ciri-ciri
Ikan baronang termasuk herbivora , panjang tubuh ikan baronang dewasa mencapai 20-45 cm, tubuhnya membujur dan memipih lateral, dilindungi oleh sisik-sisik yang kecil, mulut kecil posisinya terminal. Rahangnya dilengkapi dengan gigi-gigi kecil. Punggungnya dilengkapi oleh sebuah duri yang tajam mengarah ke depan antara neural pertama dan biasanya tertanam di bawah kulit. Duri-duri ini dilengkapi dengan kelenjar bisa/racun pada ujungnya. Racun hewan ini tidak mematikan hidup manusia dewasa, tapi dapat menyebabkan sakit parah. meskipun duri ikan baronang beracun tetapi daging hewan ini aman untuk dikonsumsi.
Spesies yang dikenal
Di Indonesia secara umum dikenal Baronang susu (Siganus canaliculatus), baronang tompel (Siganus guttatus) dan baronang angin (Siganus javus), dari ketiga jenis itu yang paling banyak ditemui adalah baronang susu. Selain itu terdapat baronang lada (Siganus stellatus), baronang batik (Siganus vermiculatus), baronang kalung (Siganus virgatus), baronang kunyit dll namun, lantaran populasinya sudah langka, jenis-jenis yang terakhir ini jarang ditemui.
Budidaya Ikan Hias : Niasa (Yellow Auratus)
Niasa (Yellow Auratus)
Syarat hidup dan asal dari niasa (Melanochromis auratus) ini sama dengan venustus. Tubuh jantan berwarna selangseling kuning dengan garis horisontal hitam sangat cemerlang, sedangkan betina berwarna agak biru dan sedikit pucat. Ikan ini memerlukan air yang alkali (pH lebih dari 7) dan cukup keras (sekitar 12° dH).
Ikan dewasa sebenarnya sangat mempertahankan daerahnya sehingga perlu adanya tanaman air atau bebatuan yang cukup sebagai shelter. Namun, pemeliharaan di kolam tanpa shelter
pun tidak bermasalah. Selain itu, karena sifatnya mouthbreeder maka tanpa sarang pun pemijahan masih tetap berjalan dengan baik.
Pemijahan masal dilakukan dengan perbandingan jantan betina 1 : 4. Proses berpijah dan cara pengambilan telur ikan ini sama dengan pada venustus. Masa inkubasi telur dalam akuarium sekitar dua hari. Larva dapat berenang sesudah 6-7 hari. Untuk pakan larva dapat diberi kutu air, artemia, atau cacing sutera yang dicincang. Sementara induknya diberi udang kecil atau rebon untuk memperbaiki kualitas telur. Untuk ikan dewasa dapat diberi pakan berupa cacing sutera.
Niasa sangat kuat dan toleran terhadap kualitas air sehingga penggantian air sekitar 3-4 hari sekali sebanyak separonya sudah cukup baik. Demikian pula ketinggian air kolamnya, walaupun ikannya cukup besar, namun air dangkal sekitar 15-20 cm tidak akan menjadi masalah dalam pemeliharaan. Ikan tetap dapat hidup dan tumbuh baik asalkan wadah pemeliharaannya diberi naungan.
Budidaya Ikan Hias : Buenos Aires Tetra (Hemigramus caudovitatus)
Buenos Aires Tetra (Hemigramus caudovitatus) yang berasal dari Brazil ini bersifat omnivora dan agresif. Ukurannya dapat mencapai 10 cm. Ikan ini menyukai air bersuhu optimal sekitar 24-27° C; pH sekitar 6,5-7,0; dan kekerasan air sekitar 6-8° dH.
Tubuhnya berwarna keperakan dengan bagian bawah perut merah. Mulai dari 3/4 tubuhnya dan melalui tengah ke bagian ekor terdapat garis. Di pangkal ekor pun terdapat garis tebal vertikal warna hitam dan dikelilingi bintik atau totol kuning.
Jantannya lebih kecil dan langsing dibanding betina. Oleh karena bersifat agresif, ikan ini tidak boleh dicampur dengan ikan lain yang bertemperamen tenang, Pemijahannya hampir sama dengan jenis tetra lain, hanya saja perlu tanaman air yang lebat untuk mengantisipasi sifat agresifnya. Telurnya bisa dimakan bila tidak segera diambil. Bisa juga induknya yang dipindahkan, sedangkan telurnya dibiarkan hingga menetas. Telur akan menetas dalam waktu 24-32 jam.
Dua hari kemudian, larvanya sudah bisa berenang. Setelah bisa berenang, larva dapat diberi pakan pertama berupa kutu air saring. Empat hari kemudian, pakannya dapat diganti dengan kutu air berukuran besar. Pakan untuk pembesaran berupa cacing sutera atau pelet halus. Umur 3 bulan atau berukuran 2,5 cm sudah bisa dijual.
Lionfish, kecantikan yang merepotkan?
Lionfish (Pterois.spp), adalah salah satu ikan karang yang tergolong kharismatik. Dengan sirip dan duri-durinya yang anggun, banyak penyelam yang menjadikannya sebagai objek andalan, baik untuk di foto maupun sekedar melihat. Namun, saat ini di Karibia, Lionfish telah menjadi masalah serius, karena keberadaannya telah mengakibatkan tingkat survival dari ikan karang lainnya menurun hingga 80%.
Tekanan yang besar terhadap terumbu di karibia menyebabkan terjadinya ketidakseimbangan ekologi. Sedimentasi, polusi hingga overfishing telah menjadi isu serius sejak beberapa tahun terakhir. Lionfish yang merupakan karnivora, telah mendominasi rantai makanan pada terumbu disana. Penelitian di lokasi menunjukkan bahwa hanya dalam 5 minggu, lionfish mampu menurunkan hingga 75% populasi juvenik ikan muda. Jenis-jenis yang paling terpangaruh ialah Cardinalfish, parrotfish, damsel. Masalah menjadi semakin parah, karena sebagian besar jenis yang terpengaruh/ hilang dari terumbu ialah ikan-ikan herbivor, yang mengontrol keberadaan alga di terumbu. Alga berkompetisi dengan karang untuk mendapatkan ruang/substrat. Menurunnya pemangsa alga yang berkombinasi dengan tingkat run off serta sedimentasi dari darat, menjadi ancaman terhadap eksistensi terumbu di Karibia.
Lalu, apakah tidak ada solusi bagi masalah lionfish ini ?, menurut para peneliti, predator alami dari lionfish adalah kerapu/grouper. Sayangnya, populasi kerapu telah mengalami overfishing berat, sehingga harapannya hanya pada pola kanibalisme yang berlaku pada lionfish. cara lain adalah mengintroduksi pemangsa bagi lionfish ke daerah terumbu. Penelitian lanjutan masih terus dilakukan sejauh ini.
Salah satu catatan penting mengenai lionfish di Karibia ialah, ternyata ikan ini bukan asli ikan di terumbu Karibia, melainkan dibawa oleh pencinta akuarium lokal atau para fish hobbist. Ikan ini berasal dari daerah Indian dan Tropical Pacific Ocean.
“These are pretty scary fish, and they aren’t timid. They will swim right up to a diver in their feeding posture, looking like they’re ready to eat. That can be a little spooky.” kata Mark Hixon, ahli zoologi yang meneliti di Karibia. Keindahan yang merepotkan memang….
Ikan Hias Blue Eyes
Ikan Hias Blue Eyes matanya bisa memantulkan cahaya. Ikan hias Blue Eyes yang dalam bahasa lain banyak sebutannya , yaitu Rainbow pseudomogil, Blauer Leuchtaugenfisch (Jerman), Normans lampeøje(Denmark), Norman's lampeye (USA), Hapsutähtisilmä/Rihmatähtisilmä (Finlandia), Lampeye Killifish , yang kemudian lebih terkenal dgn sebutan blue eyes dalam bahasa inggris , adalah sejenis ikan air tawar yang banyak digemari oleh pencinta ikan akuarium air tawar.
Ikan si mata biru ini adalah spesies kecil yang pada pandangan pertama mungkin tidak akan menjadi calon ikan yang berharga di akuarium Anda, kecuali anda bisa membuatnya bisa tampil memukau. Anda bisa mnempatkan mereka kedalam sebuah tempat dengan pencahayaan yang baik, dan Anda akan segera melihat mengapa mereka sangat populer dan banyak digemari. Sesuai dengan namanya, mata para blue eyes akan bersinar dan pendar cahaya tubuh mereka akan muncul.
Waktu saat Tampilan Biru terbaik
Ikan hias Blue eyes adalah termasuk "ikan kelompok/bergerombol" (Schooling) sehingga mereka akan mampu memberikan penampilan maksimal jika Anda memiliki 4 ekor atau lebih. Seperti halnya "ikan kelompok" lainnya , semakin banyak ikan ini anda tempatkan dalam satu tempat(misal akuarium), maka akan terlihat gerombolan titik yang bersinar dengan keindahan pemandangan yang menakjubkan.
Sangat mudah untuk dimengerti mengapa blue eyes dalam genus Aplocheilichthys disebut lampeyes (mata lampu). Banyak dari spesies-spesies ini tidak menampilkan banyak warna kecuali dalam mata mereka, yang akan bersinar cerah di bawah pencahayaan yang baik. Banyak penggemar ikan blue eyes ini yang mengatakan ikan ini akan sangat indah menampilkan nuasa biru pada matanya saat pagi hari.
Senin, 11 Juni 2012
10 ikan sejarah yang masih ada sampai saat ini
Tidak semua ikan yang berasal dari jaman prasejarah itu punah, tapi masih ada juga yang masih hidup dan bisa dilihat sampai sekarang. Hal itu mungkin dipengarhui oleh kemampuan ikan tersebut beradaptasi dengan perubahan lingkungan yang ekstrem.
Sselain itu juga dipengaruhi oleh kemampuannya dalam mencari mangsa dan bertahan hidup dari serangan predator lainnya. Nah berikut ini adalah ikan-ikan pra sejarah yang masih hidup sampai sekarang.
1. Hagfish
Menurut catatan fosil, hag telah ada selama lebih dari 300 juta tahun, yang berarti mereka sudah tua ketika dinosaurus mengambil alih dunia! Ditemukan di dalam perairan, binatang ini kadang-kadang disebut belut lendir, tetapi sebenarnya mereka bukan familia belut, dan bahkan mereka mungkin bukan ikan sama sekali.
Menurut beberapa ilmuwan, mereka adalah hewan yang sangat aneh dalam semua hal, mereka memiliki tengkorak tetapi tidak memiliki tulang belakang, dan mereka memiliki dua otak.
Hampir buta, mereka makan di malam hari pada bangkai hewan besar (ikan, paus dll) yang jatuh ke dasar laut . Mereka menggunakan lendir mereka yang dapat menghasilkan zat Slimey untuk merusak insang ikan predator; dari situlah, mereka hampir tidak memiliki musuh alami.
2. Lancetfish
Lancetfish atau Ikan pisau (dalam bhs Indonesua) memiliki penampilan jelas “sangat prasejarah”, gigi di rahang dan layar di punggungnya yang sangat tajam, mengingatkan kepada beberapa dinosaurus (walaupun, di lancetfish layar ini benar-benar sebuah sirip punggung diperbesar) .
Bahkan nama ilmiahnya terdengar dinosaurian (Alepisaurus ferox). Dengan panjang yang mencapai dua meter (6 ‘6 “), predator ini dapat ditemukan di semua samudra kecuali di daerah kutub; sangat rakus, mereka memakan ikan kecil dan cumi-cumi, mereka kadang-kadang juga memakan sesama komunitasnya.
3. Arowana
Menurut kelompok kuno Osteoglossids, ikan ini sudah ada pada periode Jurassic. Saat ini, mereka bisa ditemukan di Amazon, dan di beberapa bagian Afrika, Asia dan Australia.
Kadang-kadang disimpan sebagai hewan peliharaan eksotis, arowana adalah predator rakus yang memakan binatang kecil yang dapat mereka tangkap, termasuk burung dan kelelawar yang mereka tangkap dalam penerbangan pertengahan (mereka bisa melompat hingga 2 meter (6 ‘6 “) ke udara) .
Di Cina, arowana terkenal sebagai “Ikan Naga” karena penampilan mereka, dan mereka dianggap Pembawa keberuntungan/Nasib Baik.
4. Frilled Shark
Ini ada Predator laut dalam, salah satu hiu hidup yang paling primitif hiu hidup saat ini, Mereka adalah peninggalan dari periode Cretaceous, ketika dinosaurus menguasai Bumi.
Jarang terlihat dalam keadaan hidup, dan hanya baru-baru ini difilmkan untuk pertama kali, hiu berjumbai ini dapat tumbuh hingga 2 meter (6 ‘6 “) (dengan betina yang lebih besar dari jantan) dan mereka tinggal di perairan dalam, sebagian besar makanan mereka adalah cumi-cumi.
Mereka tidak berbahaya bagi manusia, dan faktanya mengungkapkan, Hiu ini menghabiskan seluruh hidup mereka tanpa melihat manusia. Hanya saat mati atau sekarat spesimen ini dapat terlihat dan dicatat oleh nelayan atau ilmuwan.
5. Sturgeon
Ikan ini sudah ada di awal zaman Jurassic, sturgeon sudah dikenal sebagai salah satu sumber utama kaviar (yang terbuat dari telur atau telur massa); karena penangkapan yang berlebihan, ikan lapis baja nan megah ini sangat terancam populasinya saat ini.
Spesies sturgeon terbesar dapat tumbuh hingga 6 meter (19 ‘7 “) , sama besar dengan hiu putih besar yang paling, mereka memberi makan pada binatang kecil dari dasar laut dan tidak menimbulkan bahaya bagi manusia, kecuali diprovokasi (meskipun mereka begitu besar, mereka tidak mengancam manusia, malah diburu dan disakiti, dan bahkan dibunuh oleh orang-orang yg tidak bertanggung Jawab!)
6. Arapaima
Mereka adalah kerabat dekat untuk arwana (lihat # 8), Arapaima Amazon terkadang dianggap sebagai ikan air tawar terbesar di dunia. Menurut deskripsi awal, mereka bisa tumbuh sampai dengan 4,5 meter (14 ‘8 “) panjangnya, tetapi saat ini, ikan besar seperti ini jarang ditemukan dan paling arapaima dewasa yang rata-rata panjangnya 2 meter (6′ 6″).
Predator yang bergerak lamban ini memangsa ikan-ikan kecil, krustasea dan semua hewan kecil yang bisa masuk dalam mulut mereka. Satu yang menarik dari ikan ini adalah bahwa mereka perlu bernafas ke udara, seperti cetacea, agar bertahan hidup.
Arapaima tidak menimbulkan bahaya bagi manusia dan mereka sering diburu untuk daging mereka, sayangnya, mereka sangat langka saat ini. Arapaima yang muncul dalam periode Miosen, memiliki banyak keluarga tua, Osteoglossidae, dan karena itu asal-usulnya dapat ditelusuri kembali ke usia dinosaurus.
7. Sawfish
Hewan ini adalah korban dari periode Cretaceous, dan dapat ditemukan baik di laut atau di sungai dan anak sungai, dan telah ditemukan hingga 100 km pedalaman.
Dengan panjang Hingga 7 meter (23 ‘), “Gergaji” mereka merupakan senjata dan organ sensorik, ditutupi pada elektro-sensitif pori-pori yang memungkinkan untuk merasakan mangsa walaupun penglihatan yang amat sulit sekalipun.
Meskipun biasanya baik, ikan hiu todak bisa menjadi sangat berbahaya jika diprovokasi. Berdasarkan sebuah fosil yang luar biasa, kita tahu bahwa raksasa ikan hiu todak prasejarah ini mungkin menjadi makanan pokok untuk dinosaurus karnivora terbesar, Spinosaurus, sebagian tulang belakang dari ikan itu ditemukan terjebak di antara gigi dinosaurus itu.
8. Alligator Gar
Predator hebat bersisik tebal ini ditemukan di AS selatan, utara dan timur Meksiko, menjadi ikan air tawar terbesar di Amerika Utara (meskipun kadang-kadang mengembara ke laut). Mereka dapat tumbuh hingga 4 meter (13 ‘) panjang dan berat sampai 200 kg (£ 440).
Gars Gator demikianlah mereka dijuluki, karena penampilan mereka seperti reptil dengan rahang panjang, bersenjatakan dengan dua baris gigi tajam. Mereka adalah predator rakus yang menyergap langsung dan telah terkenal sebagai Penggigit manusia unggul, tetapi tidak dikonfirmasi catatan yang menyebabkan kematian karena Gars Gator sampai saat ini. Gars adalah salah satu dari ikan tertua yang hidup hari ini, asal mereka dapat ditelusuri kembali ke masa Cretaceous.
9. Polypterus Senegalus
Ikan Afrika ini sering disebut belut dinosaurus, karena penampilan mereka menyerupai reptil dengan sirip punggung bergerigi, mengingatkan pada beberapa dinosaurus yang pungunggnya berduri. Tetapi mereka tidak termasuk familia belut, mereka adalah anggota Familia bichir.
Mereka sering dijual sebagai hewan peliharaan eksotis, belut dinosaurus ini sering kali keluar dari tangki ikan (Akuarium) mereka . Mereka dapat bertahan keluar dari air untuk jangka waktu yang lama selama kulit mereka tetap basah, yang memungkinkan mereka untuk mengembara jauh dari tangki (Akuarium) mereka.
10. Coelacanth
Coelacanth adalah yang paling terkenal dari semua “fosil hidup” dan pantas menjadi no. 1 dalam daftar ini, karena ini adalah contoh terbaik dari takson Lazarus, ini adalah hewan yang seharusnya sudah lama punah.
Ikan ini seharusnya telah punah pada periode Cretaceous, bersama dengan dinosaurus, tetapi pada tahun 1938, sebuah spesimen hidup tertangkap di Afrika Selatan. Sejak itu, diteliti lebih banyak spesimen telah dilihat dan difoto, dan spesies Coelacanth kedua bahkan ditemukan di Indonesia pada tahun 1999.
Ikan ini adalah predator besar,dengan panjang mencapai 2 meter (6 ‘6 “), mereka memakan ikan yang lebih kecil, termasuk hiu kecil, dan biasanya ditemukan di dalam, perairan gelap. Meskipun jarang ditangkap dan dikonsumsi karena rasanya yang mengerikan, raja ikan laut ini sangat terancam populasinya.
Menurut catatan fosil, hag telah ada selama lebih dari 300 juta tahun, yang berarti mereka sudah tua ketika dinosaurus mengambil alih dunia! Ditemukan di dalam perairan, binatang ini kadang-kadang disebut belut lendir, tetapi sebenarnya mereka bukan familia belut, dan bahkan mereka mungkin bukan ikan sama sekali.
Menurut beberapa ilmuwan, mereka adalah hewan yang sangat aneh dalam semua hal, mereka memiliki tengkorak tetapi tidak memiliki tulang belakang, dan mereka memiliki dua otak.
Hampir buta, mereka makan di malam hari pada bangkai hewan besar (ikan, paus dll) yang jatuh ke dasar laut . Mereka menggunakan lendir mereka yang dapat menghasilkan zat Slimey untuk merusak insang ikan predator; dari situlah, mereka hampir tidak memiliki musuh alami.
2. Lancetfish
Lancetfish atau Ikan pisau (dalam bhs Indonesua) memiliki penampilan jelas “sangat prasejarah”, gigi di rahang dan layar di punggungnya yang sangat tajam, mengingatkan kepada beberapa dinosaurus (walaupun, di lancetfish layar ini benar-benar sebuah sirip punggung diperbesar) .
Bahkan nama ilmiahnya terdengar dinosaurian (Alepisaurus ferox). Dengan panjang yang mencapai dua meter (6 ‘6 “), predator ini dapat ditemukan di semua samudra kecuali di daerah kutub; sangat rakus, mereka memakan ikan kecil dan cumi-cumi, mereka kadang-kadang juga memakan sesama komunitasnya.
3. Arowana
Menurut kelompok kuno Osteoglossids, ikan ini sudah ada pada periode Jurassic. Saat ini, mereka bisa ditemukan di Amazon, dan di beberapa bagian Afrika, Asia dan Australia.
Kadang-kadang disimpan sebagai hewan peliharaan eksotis, arowana adalah predator rakus yang memakan binatang kecil yang dapat mereka tangkap, termasuk burung dan kelelawar yang mereka tangkap dalam penerbangan pertengahan (mereka bisa melompat hingga 2 meter (6 ‘6 “) ke udara) .
Di Cina, arowana terkenal sebagai “Ikan Naga” karena penampilan mereka, dan mereka dianggap Pembawa keberuntungan/Nasib Baik.
4. Frilled Shark
Ini ada Predator laut dalam, salah satu hiu hidup yang paling primitif hiu hidup saat ini, Mereka adalah peninggalan dari periode Cretaceous, ketika dinosaurus menguasai Bumi.
Jarang terlihat dalam keadaan hidup, dan hanya baru-baru ini difilmkan untuk pertama kali, hiu berjumbai ini dapat tumbuh hingga 2 meter (6 ‘6 “) (dengan betina yang lebih besar dari jantan) dan mereka tinggal di perairan dalam, sebagian besar makanan mereka adalah cumi-cumi.
Mereka tidak berbahaya bagi manusia, dan faktanya mengungkapkan, Hiu ini menghabiskan seluruh hidup mereka tanpa melihat manusia. Hanya saat mati atau sekarat spesimen ini dapat terlihat dan dicatat oleh nelayan atau ilmuwan.
5. Sturgeon
Ikan ini sudah ada di awal zaman Jurassic, sturgeon sudah dikenal sebagai salah satu sumber utama kaviar (yang terbuat dari telur atau telur massa); karena penangkapan yang berlebihan, ikan lapis baja nan megah ini sangat terancam populasinya saat ini.
Spesies sturgeon terbesar dapat tumbuh hingga 6 meter (19 ‘7 “) , sama besar dengan hiu putih besar yang paling, mereka memberi makan pada binatang kecil dari dasar laut dan tidak menimbulkan bahaya bagi manusia, kecuali diprovokasi (meskipun mereka begitu besar, mereka tidak mengancam manusia, malah diburu dan disakiti, dan bahkan dibunuh oleh orang-orang yg tidak bertanggung Jawab!)
6. Arapaima
Mereka adalah kerabat dekat untuk arwana (lihat # 8), Arapaima Amazon terkadang dianggap sebagai ikan air tawar terbesar di dunia. Menurut deskripsi awal, mereka bisa tumbuh sampai dengan 4,5 meter (14 ‘8 “) panjangnya, tetapi saat ini, ikan besar seperti ini jarang ditemukan dan paling arapaima dewasa yang rata-rata panjangnya 2 meter (6′ 6″).
Predator yang bergerak lamban ini memangsa ikan-ikan kecil, krustasea dan semua hewan kecil yang bisa masuk dalam mulut mereka. Satu yang menarik dari ikan ini adalah bahwa mereka perlu bernafas ke udara, seperti cetacea, agar bertahan hidup.
Arapaima tidak menimbulkan bahaya bagi manusia dan mereka sering diburu untuk daging mereka, sayangnya, mereka sangat langka saat ini. Arapaima yang muncul dalam periode Miosen, memiliki banyak keluarga tua, Osteoglossidae, dan karena itu asal-usulnya dapat ditelusuri kembali ke usia dinosaurus.
7. Sawfish
Hewan ini adalah korban dari periode Cretaceous, dan dapat ditemukan baik di laut atau di sungai dan anak sungai, dan telah ditemukan hingga 100 km pedalaman.
Dengan panjang Hingga 7 meter (23 ‘), “Gergaji” mereka merupakan senjata dan organ sensorik, ditutupi pada elektro-sensitif pori-pori yang memungkinkan untuk merasakan mangsa walaupun penglihatan yang amat sulit sekalipun.
Meskipun biasanya baik, ikan hiu todak bisa menjadi sangat berbahaya jika diprovokasi. Berdasarkan sebuah fosil yang luar biasa, kita tahu bahwa raksasa ikan hiu todak prasejarah ini mungkin menjadi makanan pokok untuk dinosaurus karnivora terbesar, Spinosaurus, sebagian tulang belakang dari ikan itu ditemukan terjebak di antara gigi dinosaurus itu.
8. Alligator Gar
Predator hebat bersisik tebal ini ditemukan di AS selatan, utara dan timur Meksiko, menjadi ikan air tawar terbesar di Amerika Utara (meskipun kadang-kadang mengembara ke laut). Mereka dapat tumbuh hingga 4 meter (13 ‘) panjang dan berat sampai 200 kg (£ 440).
Gars Gator demikianlah mereka dijuluki, karena penampilan mereka seperti reptil dengan rahang panjang, bersenjatakan dengan dua baris gigi tajam. Mereka adalah predator rakus yang menyergap langsung dan telah terkenal sebagai Penggigit manusia unggul, tetapi tidak dikonfirmasi catatan yang menyebabkan kematian karena Gars Gator sampai saat ini. Gars adalah salah satu dari ikan tertua yang hidup hari ini, asal mereka dapat ditelusuri kembali ke masa Cretaceous.
9. Polypterus Senegalus
Ikan Afrika ini sering disebut belut dinosaurus, karena penampilan mereka menyerupai reptil dengan sirip punggung bergerigi, mengingatkan pada beberapa dinosaurus yang pungunggnya berduri. Tetapi mereka tidak termasuk familia belut, mereka adalah anggota Familia bichir.
Mereka sering dijual sebagai hewan peliharaan eksotis, belut dinosaurus ini sering kali keluar dari tangki ikan (Akuarium) mereka . Mereka dapat bertahan keluar dari air untuk jangka waktu yang lama selama kulit mereka tetap basah, yang memungkinkan mereka untuk mengembara jauh dari tangki (Akuarium) mereka.
10. Coelacanth
Coelacanth adalah yang paling terkenal dari semua “fosil hidup” dan pantas menjadi no. 1 dalam daftar ini, karena ini adalah contoh terbaik dari takson Lazarus, ini adalah hewan yang seharusnya sudah lama punah.
Ikan ini seharusnya telah punah pada periode Cretaceous, bersama dengan dinosaurus, tetapi pada tahun 1938, sebuah spesimen hidup tertangkap di Afrika Selatan. Sejak itu, diteliti lebih banyak spesimen telah dilihat dan difoto, dan spesies Coelacanth kedua bahkan ditemukan di Indonesia pada tahun 1999.
Ikan ini adalah predator besar,dengan panjang mencapai 2 meter (6 ‘6 “), mereka memakan ikan yang lebih kecil, termasuk hiu kecil, dan biasanya ditemukan di dalam, perairan gelap. Meskipun jarang ditangkap dan dikonsumsi karena rasanya yang mengerikan, raja ikan laut ini sangat terancam populasinya.
Minggu, 10 Juni 2012
Ikan Sili
Namanya pendek: sili. Namun, Macrognathus armatus itu cukup tenar di jagad maya ikan hias negeri Barrack Obama. Ikan pipih panjang bermotif batik zigzag itu laku keras sebagai pengisi akuarium air tawar. Di dunia maya harga ikan sepanjang 9 cm itu mencapai $16,49 setara Rp164.000/ekor.
Nun di Purwokerto, Jawa Tengah, sebagaimana ditulis oleh trubus-online.co.id, sili jenis Macrognathus aculeautus bernasib berbeda. Ikan bermotif batik dengan lingkaran di punggung itu sekadar ikan konsumsi. Rasa dagingnya tidak kalah dengan nila. Padahal, aculeatus yang dijual Rp15.000/ekor untuk panjang 25 cm itu memiliki potensi sebagai ikan hias.
Sili termasuk ikan sungai yang banyak dijumpai di Sumatera, Kalimantan, dan Jawa. Karena bentuknya panjang seperti belut dan berduri, anggota dari famili Mastacembelidae itu populer disebut spiny eel alias belut berduri. Hasil penelitian Fishbase – lembaga pusat informasi ikan dalam naungan organisasi pangan dunia (FAO) – menunjukkan terdapat 83 spesies sili di dunia. Dari jumlah itu 15 jenis di antaranya hidup di sungai tawar di Asia, termasuk 10 jenis di tanahair, seperti Macrognathus aculeatus, M. maculatus, dan Mastacembelus unicolor – ketiganya ada di Jawa.
Ikan hias
Dua dari tiga suku famili Mastacembelidae, yaitu Macrognathus dan Mastacembelus terdapat di Indonesia. Hanya suku Sinobdella yang tidak ditemukan di Indonesia. Macrognathus dan Mastacembelus sepintas sama, perbedaannya terletak pada jumlah spina – duri – di punggung. Macrognathus memiliki 31 duri, Mastacembelus 33 duri. Keduanya mempunyai sosok tubuh menarik. Bentuknya ramping seperti sabuk dengan balutan warna di sekujur tubuh. Di Amerika Serikat dan negara Uni Eropa mereka mengisi akuarium-akuarium di ruang tamu.
Yang tak kalah menarik Mastacembelus erythrotaenia. Sebagai ikan hias, tubuhnya yang pipih dengan motif batik hitam, merah, serta strip kuning terlihat sempurna. Keindahan tubuhnya kian kentara saat ditaruh pada akuarium minim cahaya. Semburat merah dan kuning terpancar dari tubuhnya yang mencapai panjang 55 cm itu bak kilatan api. Oleh karena itu, julukan belut berduri api melekat pada Mastacembelus.
Sili lainnya Macrognathus zebrinus, memiliki sisik bermotif batik bak zebra. Sedangkan Mastacembelus unicolor, bermotif lurik bagai selembar tenunan kain batik, dan Macrognathus siamensis bermotif menyerupai merak jantan yang tengah mengembangkan ekor. Itulah sebabnya siamensis dijuluki peacock eel alis belut merak.
Terancam punah
Sejatinya dari ketiga spesies sili yang ada di Jawa belum masuk daftar Red List (spesies yang terancam keberadaannya, red) yang dikeluarkan oleh lembaga konservasi alam dunia International Union for Conservation of Nature (IUCN) pada 2010. Namun, hasil penelitian yang dilakukan sejak 2000 di sungai-sungai di Jawa Tengah, populasi tilan – sebutan sili di Sumatera – berada di ujung tanduk.
Penelitian yang dilakukan di Sungai Serayu, Klawing, Banjaran, Mengaji, dan Logawa – semuanya di Kabupaten Banyumas dan Purbalingga Jawa Tengah – tak satu pun dari lokasi itu bisa ditemukan lebih dari 10 ikan. Rata-rata 3 – 4 ekor di setiap tempat dengan jantan lebih dominan. Lebih tragis lagi Macrognathus maculatus, hanya ditemukan 1 ekor di hilir Sungai Serayu.
Cemaran pestisida, herbisida, dan pemakaian pupuk berlebih ke sungai menjadi penyebab terancamnya habitat alami sili. Belum lagi, limbah rumahtangga yang dibuang ke sungai, menjadi sumber pencemaran. Dan yang tak kalah penting: rusaknya tepian dan dasar sungai akibat aktivitas penambangan pasir dan batu. Di sepanjang Sungai Serayu, Logawa, dan Klawing truk pengangkut pasir dan batu lazim ditemui hilir-mudik. Pasir yang diambil dari sungai dapat merusak habitat sili yang menyukai kondisi dasar sungai berlumpur, pasir, serta kaya serasah daun. Lewat penelitian ekologi diharapkan populasi sili meningkat dan memperkaya pilihan hobiis ikan hias. (Dr rer. nat W. Lestari, MSc dan Drs Sugiharto MSi, staf pengajar Laboratorium Ekologi, Fakultas Biologi, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto)
Langganan:
Postingan (Atom)






