Jumat, 25 Mei 2012
Ikan Reedfish (Erpetoichthys calabaricus)
Reedfish (Erpetoichthys calabaricus) dikenal juga dengan nama Ropefish dan Snakefish merupakan ikan air tawar dari keluarga Bichir yang berhabitat asli di Afrika Barat terutama di Nigeria sampai Kongo.
Lingkungan hidup Reedfish adalah sungai berlumpur atau keruh. Reedfish mempunyai penampilan fisik yang menyerupai ular dengan warna kehijuan pada permukaan punggung dan kekuningan pada permukaan perut. Selain itu, Reedfish mempunyai lubang hidung pada tentakel yang menonjol keluar dari kepalanya. Reedfish dapat mencapai panjang tubuh maksimum 90 cm, namun di aquarium hanya sekitar 40 cm.
Seperti umumnya bichir, ikan ini mempunya beberapa sirip di sepanjang punggungnya. Reedfish hidup pada daerah tropis dengan suhu 22 – 280C dan pH 6 – 8. Reedfish bergerak seperti ular saat berada di dasar perairan, namun dia juga dapat melesat cepat saat di level tengah. Reedfish merupakan omnivora yang cenderung predator yang dapat memakan ikan kecil, udang, cacing tanah dan terkadang memakan organisme mati juga alga. Ikan ini mempunyai cara unik dalam menangkap mangsa, Reedfish dapat merasakan signal listrik dari insang ikan atau crustacea lain dan menggunakan elektroreceptor (terdapat pada lubang hidung) untuk menangkap mereka. Reedfish mempunyai kemampuan bernafas dengan mengambil oksigen langsung dari udara selain bernafas dengan insangnya, hal ini dilakukan dengan cara menelan udara di permukaan air. Karena kemampuan bernafasnya, Reedfish dapat hidup tanpa air sampai delapan jam asal kulitnya dijaga tetap lembab. Breeding di aquarium belum pernah dilaporkan, namun diketahui bahwa Reedfish melakukan pembuahan secara eksternal. Ikan Reedfish jantan mempunyai sirip anal yang lebih panjang dibanding betina. Perawatan di aquarium, ikan ini tidak agresif dengan jenisnya sehingga dapat dirawat dalam kelompok. Selain itu, pemberian tutup pada aquarium sangat diperlukan karena Reedfish bisa melompat keluar aquarium. Reedfish bersifat nocturnal sehingga perlu banyak tempat bersembunyi seperti akar dan batu.
Ikan Hias Ornate Bichir
Ornate Bichir (Polypterus ornatapinnis), Ikan Purba Bertutul dari Afrika
Ornate Bichir (Polypterus ornatapinnis) dianggap sebagai ikan keluarga bichir yang paling attraktif. Ikan berfisik unik ini mempunyai penampilan yang khas binatang purba. Selain itu ornate bichir merupakan salah satu ikan terbesar dalam family Polypteridae. Family polypteridae sendiri sudah ada sejak periode Cretaceous dan tidak mengalami perubahan setelah 60 juta tahun sehingga dikenal sebagai ikan purba. Ikan ini banyak tersebar di benua Afrika terutama afrika tengah dan barat mulai dari sungai Kongo (Zaire, Kamerun, Angola, Kongo, Burundi, Tanzania), anak sungai, rawa, kolam dan danau termasuk danau Tanganyika.
Ornate bichir termasuk golongon bichir yang mempunyai penampilan menarik. Tubuh yang berwarna coklat gelap dengan tutul-tutul hitam dan kuning membuat ikan ini cantik dan mudah dibedakan dari ikan bichir yang lain. Tutul-tutul tersebut selain ada pada tubuhnya juga ada di kepala dan semua siripnya termasuk ekor. Ikan ini juga mempunyai dua mata yang kecil pada sisi kepalanya dan sepasang sungut di atas mulutnya. Ciri khas dari ikan bichir adalah tulang rawan pada sirip punggungnya. Jika pada ikan jenis lain tulang rawan berdekatan dan membentuk satu deretan sirip punggung, tetapi pada bichir tulang rawan tersebut mempunyai jarak sehingga membentuk banyak sirip punggung terpisah yang berderet dari punggung sampai ekor. Jumlah sirip punggung ikan ini berkisar antara 8-11. Selain itu, sirip dada dan anal sangat tebal dan dapat digunakan sebagai kaki sehingga memungkinkan ikan dapat berjalan saat keluar dari air. Secara fisik, bichir mempunyai penampilan mirip ular dan bukannlah perenang handal namun masih cukup cepat saat berburu. Cara mereka memakan mangsa adalah dengan menelannya langsung. Seperti bichir yang lain, ikan ini juga mempunyai sepasang paru-paru primitif yang memberikan kemampuan untuk bertahan di luar air dalam jangka waktu yang pendek. Ornate bichir dapat tumbuh hingga 61 cm (24”) namun di dalam aquarium hanya dapat tumbuh sekitar 18”.
Ornate bichir merupakan bersifat karnivora di alam bebas dam membutuhkan makanan yang tepat. Untuk ikan yang masih kecil dan masa pertumbuhan maka makanan yang cocok adalah bloodworm, daphnia dan brineshrimpe. Ikan yang sudah dewasa dapat diberi makanan seperti udang, daging ikan, ikan kecil, anakan ikan, cacing tanah dan beberapa jenis kerang. Ikan ini merupakan pemakan yang rakus walaupun mempunyai perut yang kecil. Masalah bisa timbul karena kerakusannya yakni ikan bisa mati jika memakan makanan yang berukuran besar yang melebihi kuantitas perutnya. Ornate bichir yang telah dirawat di aquarium dapat dibiasakan untuk diberi pellet ikan sebagai makanannya.
Untuk pemeliharaan di aquarium, ornate bichir membutuhkan area dasar yang cukup luas. Hal ini disebabkan ikan lebih banyak waktu di dasar air untuk menangkap mangsa. Anakan ikan dapat di rawat dalam tangki berukuran 55 gallon sampai mereka mencapai panjang 12” atau berusia sekitar satu tahun. Saat melebihi usia atau ukuran tersebut, mereka membutuhkan space yang lebih luas sekitar 180 gallon atau berdimensi 72”x24”x24”. Ornate bichir adalah ikan nocturnal namun terkadang mereka juga aktif di siang hari. Dekorasi menggunakan tanaman bukannlah hal yang perlu, cukup area yang luas dengan substrat lembut, serpihan kayu dan bebatuan kecil akan membuat ikan nyaman. Mengingat ikan ini bersifat nocturnal, memberikan tempat bersembunyi baik kayu, batu atau pipa merupakan pilihan yang tepat. Pemberian tutup pada tangki disarankan karena sebagai keluarga bichir ikan ini mudah untuk melarikan diri. Hal ini disebabkan kemampuannya yang dapat bernafas langsung di udara dan bentuk tubuhnya yang silinder membantunya melewati lubang yang ada pada tangki. Kondisi air harus selalu bersih dengan parameter suhu 25-28 0C, pH 6-8 dan kesadahan 5-25 0H. Penggantian air tangki dapat dilakukan sekali dalam seminggu. Sebagai predator, jangan campur ikan-ikan kecil dengan ikan ini karena akan dianggap sebagai mangsa. Ornate bichir merupakan tipe ikan yang menunggu mangsa bukan menyerang mangsa. Disarankan untuk mencampurnya dengan ikan-ikan asli Afrika lainnya seperti African butterflyfish, Cichlid, Bichir lain, Datnoids, Knifefish, Ctenopoma yang cukup besar, Catfish, Characin yang cukup besar dan lainnya. Ukuran tubuh adalah faktor penting dalam pemeliharaan predator walaupun satu spesies karena terkadang ikan bersifat kanibal.
Perbedaan ikan jantan dan betina dapat dilihat dari bentuk sirip analnya ketika dewasa. Pada ikan jantan biasanya memiliki sirip anal yang lebih tebal dan lebar dibanding betina. Selain itu, sirip anal jantan juga terlihat lebih gemuk dan padat dibanding betina. Teknik breeding ikan masih sangat jarang dilakukan di tangki, namun jika akan melakukannya dibutuhkan tangki berukuran besar. Ornate bichir bertelur pada musim hujan, jadi atur kondisi temperatur dan kimiawi air untuk menyerupai musim bertelur ikan di alam bebas. Air haruslah bersuhu cukup dingin, pH rendah dan berkesadahan rendah. Ikan ini bertipe “telur menyebar” jadi lebih baik menyediakan tanaman berdaun lebar atau sejenis pengumpul telur. Proses breeding diawali dengan jantan yang akan memburu dan menyentuh betina. Kemudian jantan akan menerima telur dari betina dengan meliukkan sirip anal dan panggulnya di sekitar alat genital betina. Jantan akan membuahi telur tersebut sebelum menyebar telurnya ke vegetasi yang ada. Setelah proses penyebaran telur, induk harus segera dipindahkan karena akan memakan telur mereka sendiri. Telur ikan akan menetas setelah 3-4 hari dan anakan ikan baru bisa berenang tiga hari kemudian. Anakan ikan dapat diberi makan brineshrimpe dan microworm.
Orinoco Peacock Bass (Cichla Orinocensis)
Orinoco Peacock Bass (Cichla Orinocensis) Ikan Hijau Agresif Bermarking Tiga dari Amazon
Orinoco Peacock Bass (Cichla Orinocensis) merupakan ikan family Cichlid yang tersebar mulai dari bantaran sungai Amazon, Rio Negro, Rio Orinoco dan Rio branco. Sungai-sungai tersebut berada di Venezuela, Columbia dan Brazil. Dalam bahasa lokal ikan ini sering dikenal dengan nama Borboleto, Taua dan Pavon. Borboleto sendiri dalam bahasa Portugis berarti “Kupu-kupu”, hal ini banyak membingungkan orang antara spesies ikan ini dengan Butterfly Peacock Bass (Cichla Ocellaris). UICN tidak pernah melakukan investigasi terhadap semua spesies peacock bass, oleh karena itu ikan ini tidak berada dalam daftar merah dan sampai saat ini tidak ada laporan yang mengatakan bahwa ikan dalam kondisi terancam.
Orinoco peacock bass termasuk salah satu dari lima belas spesies peacock bass yang telah ditemukan. Seperti halnya ikan peacock bass lainnya, ikan ini mempunyai range warna tubuh dari kuning keemasan sampai hijau keemasan yang tersebar di seluruh bagian tubuh. Selain itu, bagian bawah tubuh (perut) berwarna kemerahan dan bagian atas tubuh (punggung) berwarna kebiruan. Ciri khas dari Orinoco peacock bass ialah adanya tiga pola yang sangat jelas yang tersusun vertical di kedua sisi tubuhnya. Pola berbentuk cincin dengan bagian dalam berwarna hitam mencolok dan berwarna keperakan pada bagian garis tepinya. Terkadang dalam pola tersebut terdapat pola-pola cincin keemasan yang lebih kecil. Pada bagian kepala (pipi) tidak terdapat marking gelap seperti yang terdapat pada sepupunya Cichla temensis. Orinoco peacock bass beradaptasi dengan lingkungan berarus cepat dengan mengembangkan tubuh yang licin serta sirip dada dan anal yang sangat kuat. Ikan yang mempunyai sinonim nama latin Cichla argus ini merupakan ikan yang terkenal bagi para pemancing, karena ikan ini mempunyai kekuatan yang cukup besar saat menangkap umpan. Ikan dewasa dapat mempunyai panjang tubuh sekitar 60 cm. Rekor ikan yang pernah di dapat mempunyai berat tubuh 6,22 Kg dan terjadi di Venezuela. Akhir-akhir ini, Orinoco peacock bass juga mulai populer sebagai ikan aquarium karena keindahan warna tubuhnya. Masa hidup ikan ini bervariatif yakni sekitar 8-12 tahun.
Orinoco peacock bass ditemukan hidup pada berbagai kondisi di habitat aslinya, mereka cenderung mendiami perairan yang dangkal dan berarus sedang. Namun jika melihat kondisi habitat aslinya, ikan ini juga terbiasa dengan perairan berarus cepat. Lokasi yang biasa disukai ikan ini adalah di sekitar garis pantai, kolam atau bendungan dan danau di pinggir laut. Satu hal yang menarik ialah ikan ini biasanya ada bila di perairan tersebut ditemukan Cichla Temensis.
Untuk perawatan di aquarium, satu orinoco peacock bass kecil saja membutuhkan tangki yang cukup besar. Satu ikan dewasa setidaknya membutuhkan tangki dengan ukuran 8’x3’x3’. Tangki yang lebih kecil akan membuat ikan kekurangan ruang untuk bergerak dan menyebabkan ikan tidak bertahan lama. Karena ikan membutuhkan banyak ruang, maka set up yang bagus hanyalah dengan memasang sedikit ornamen. Satu batang kayu besar atau tanaman air yang rindang direkomendasikan sebagai ornamen tangki. Ikan ini membutuhkan air berkualitas baik yakni dengan sedikit polutan dan kaya akan kandungan oksigen. Sistem filtrasi baik secara mekanis, kimiawi dan biologi haruslah kuat sehingga menciptakan arus air yang cukup untuk membuat ikan lebih nyaman. Selain itu, filtrasi yang kuat juga bertujuan untuk membersihkan sisa makanan dan kotoran yang ada pada tangki. Setting air pada tangki dengan suhu 27-290C, pH 5,5-6,5 dan kesadahan 5-150H.
Orinoco peacock bass mempunyai karakter yang agresif dan teritorial. Oleh karena itu, sangat lebih baik jika ikan ini dipelihara sendiri dalam tangki. Jika ikan ini dipelihara dengan ikan lain maka ukuran tankmate adalah hal yang penting untuk diperhatikan. Tankmate haruslah ikan besar seperti cichlid, catfish, stingray dan arowana. Tankmate yang berukuran lebih kecil akan dimakan karena akan dianggap sebagai makanan. Orinoco peacock bass bisa juga dicampur dengan jenis peacock bass lain baik yang satu spesies maupun beda spesies.
Orinoco peacock bass bersifat karnivora (predator), di alam bebas dia akan memakan berbagai makanan yang ada di ekosistem mereka. Makanannya cenderung binatang hidup seperti ikan kecil, cacing, crustacea, serangga, kerang (remis) dan amfibi. Untuk pemeliharaan di dalam aquarium, penyediaan makanan harus dikondisikan seperti halnya di alam bebas yakni berupa makanan hidup. Penyediaan makanan hidup haruslah hati-hati mengingat makanan hidup lebih cenderung mudah membawa bibit penyakit. Selain makanan hidup, beberapa makanan komersial juga cocok untuk ikan ini seperti pellet, bloodworm, makanan beku dan lainnya.
TAKSONOMI
Kingdom Animalia
Phylum Chordata
Class Actinopterygii
Order Perciformes
Family Cichlidae
genus Cichla
Species Cichla orinocensis
Teknik pemijahan ikan ini belum banyak diketahui, namun beberapa peternak telah berhasil melakukannya. Ikan jantan diketahui dari ukuran tubuhnya yang lebih besar dan biasanya memiliki punuk. Pasangan induk yang siap dipijah hendaknya dipisahkan pada tangki tersendiri atau kolam.
Kamis, 24 Mei 2012
Ikan Rainbow
Ikan Rainbow merupakan jenis ikan hias yang banyak diminati masyarakat karena jenis ikan ini juga dapat merupakan komoditi eksport. Ada 2 jenis rainbow yang cukup terkenal yaitu rainbow Irian (Melano Tacnia maccaulochi dan Rainbow Anlanesi ogilby Telmatherina ladigesi ahl Rainbow Irian warna dasarnya keperak-perakan dengan warna gelap metalik sedangkan rainbow Sulawesi warna dasarnya kuning zaitun, dengan warna bagian bawah kuning jenis ikan ini termasuk ikan bertelur dengan menempelkan telur pada tanaman air. Kwalitas air yang diperlukan untuk kehidupan jenis ikan ini yaitu temperatur air 23 - 26 ° C. Ph. air sebaiknya diatas 7. Jenis ikan ini dapt hidup dan berkembang-biak dalam aquarium maupun bak semen. Ikan ini sudah dapat memijah setelah berumur + 7 bulan dalam ukuran 5 - 7 cm. Makanan yang biasa diberikan dalam pemeliharaan ikan ini yaitu kutu air, cacing zambut atau cuk. Supaya ikan dapat tumbuh dengan baik selama pemeliharaan bertelur, air harus klop memenuhi persyaratan dan dilakukan penggantian air + 1 minggu 1 kali.
PEMBENIHAN IKAN ALIGATOR
PEMBENIHAN IKAN ALIGATOR (Atractosteus spatula)
PENDAHULUAN
Salah satu ikan hias yang sampai saat ini memiliki nilai ekonomis tinggi adalah ikan aligator. Ikan tersebut merupakan ikan purba berukuran besar dan tergolong ikan karnivora. Sampai saat ini teknik pengembangbiakannya belum banyak diketahui, baik oleh produsen maupun penggemar ikan hias. Beberapa pembudidaya memang sudah berhasil memijahkan ikan aligator ini melalui teknik kawon suntik, tetapi hasilnya masih belum memuaskan. Ikan aligator banyak diminati baik didalam negeri maupun di luar negeri. Ikan tersebut sekarang banyak digunakan sebagai ikan hias karena warna sisiknya yang indah.
MENGENAL SOSOK ALIGATOR LEBIH DEKAT
Ikan ini memiliki bentuk tubuh silindris memanjang menyerupai torpedo. Sirip punggung dan sirip dubur aligator terletak pada bagian belakang tubuh pada posisi hampir berlawanan. Mulutnya bermoncong panjang mirip buaya. Oleh karena itu, ikan ini disebut ikan buaya. Ikan yang bergigi tajam ini dilindungi sisik yang berfungsi sebagai perisai. Sisiknya merupakan ganoid berbentuk intan yang saling bertaut.
Ikan aligator umumnya berwarna coklat atau kehijauan pada bagian atas tubuhnya. Bagian bawah tubuhnya yaitu didaerah perut berwarna agak terang. Warna daging aligator kemerahan, sedangkan telur berwarna kehitaman. Menurut informasi daging ikan aligator dapat dimakan sedangkan telurnya yang berbentuk bulat sangat beracun bagi manusia, hewan dan unggas air.
Ikan aligator jantan memiliki testis sedangkan ikan betina memiliki ovarium. Ikan ini memiliki jantung, hati, ginjal dan saluran pencernaan. Pada ikan betina hati sangat penting untuk pembentukan bakal kuning telur. Ikan aligator agak sukar dibedakan antara jantan dan betina. Perbedaannya akan terlihat bila sudah mencapai kematangan gonad. Ikan tersebur dibedakan berdasarkan pengamatan pada morfologi tubuh. Induk betina perutnya menonjol, lebih lunak, dan besar. Sementara induk jantan biasanya lebih ramping.
KEGIATAN PEMBENIHAN
1. Seleksi Induk
Sebelum ikan dipijahkan, perlu dilakukan seleksi induk. Badan induk tersebut harus lurus dan gemuk. Biasanya induk ikan aligator yang dapat dipijahkan memiliki bobot tubuh mulai dari 1 Kg.
Induk yang berukuran besar akan mengeluarkan lebih banyak telur dibandingkan induk yang berukuran kecil. Selain itu induk yang dipilih harus sehat, tidak cacat, tidak luka, tidak ditempeli parasit dan matang gonad. Induk pun harus lincah serta berwarna cerah dan tidak gelap. Tutup insang induk harus menutup sempurna dan siripnya lengkap. Induk dengan kriteria tersebut umumnya dapat diperoleh dengan teknik pemeliharaan yang baik.
2. Kematangan Gonad
Kematangan gonad ikan aligator perlu waktu yang cukup lama dan biasanya dicapai setelah ikan berukuran besar. Kematangan gonad ditandai dengan peningkatan nilai indeks gonadosomatic (IGS), yaitu perbandingan antara bobot gonad dan bobot tubuh yang dinyatakan dalam persen. Menurut informasi, indeks gonadosomatic untuk betina aligator mencapai nilai tertinggi pada musim gugur yang mencapai 9,6 %.
Induk betina yang sudah matang gonad, perutnya membesar sampai kearah anus. Induk betina yang sudah siap memijah akan memiliki warna urogenital yang merah (gambar.2). sementara jantan yang sudah mencapai kematangan gonad, biasanya kalau diurut dari bagian dada kearah ujung ekor akan mengeluarkan cairan sperma berwarna putih. Tanda inilah yang dapat digunakan untuk membedakan antara induk jantan dan betina dengan mudah.
3. Proses Pemijahan
Ikan Aligator di Indonesia tidak dapat dibiakkan secara alamiah di dalam wadah budidaya. Oleh karena itu, digunakan cara lain melalui pemijahan buatan yang dikenal sebagai kawin rangsang atau kawin suntik (induced breeding). Caranya yaitu melalui penyuntikan hormon ovaprim yang berisi a-LHRH dan antidopamin. Penyuntikan biasanya dilakukan dua kali. Suntikan pertama diberikan sebanyak 30% dari dosis dan suntikan kedua sebanyak 70% dengan dosis sebesar 0,7 ml/kg. Ovulasi dan pemijahan terjadi setelah tujuh jam penyuntikan kedua. Pada saat proses pemijahan akan terdengar suara percikan dan bunyi kepakan sirip di air.
4. Inkubasi Dan Penetasan
Inkubasi dan penetasan dilakukan didalam akuarium terpisah. Penetasan telur ikan buaya berlangsung lama. Biasanya telur menetas dalam 6-8 hari setelah pemijahan. Ujung ekor tempak mulai mencuat ke luar pada hari kedua, tetapi penetasan yang sempurna baru terjadi pada 6-7 hari setelah penetasan.
Selanjutnya telur yang telah menjadi larva menghabiskan kuning telur selama seminggu. Setelah itu larva mulai memakan pakan yang berasal dari luar tubuhnya. Setelah menetas, larva menempel ketanaman air dengan alat seperti cakram pada ujung moncongnya sampai berukuran panjang tiga perempat inci. organ tersebut kemudian menghilang ketika ikan tumbuh dewasa.
Untuk mengurangi terjadinya serangan jamur, penetasan dilakukan pada kepadatan rendah. Untuk dua substrat yang penuh berisi telur dapat digunakan sebuah akuarium bervolume 100 liter. Untuk menekan petumbuhan jamur yang menyerang telur (Saprolegnia) ke dalam air media penetasan dapat ditambahkan biru metilen (methylene blue) sebanyak 2 ppm. Pergantian air tidak perlu dilakukan selama penetasan karena kepadatannya rendah.
Ikan aligator merupakan ikan yang berkembang biak dengan cara substrat spawner (peletak telur di substrat) dimana telur ikan aligator menempel pada rerumputan atau juga dapat dibuat tali rafia yang dipotong sepanjang 30 cm yang salah satu ujungnya diikat hingga menyatu.
5. Perawatan Larva
Setelah embrio menetas seluruhnya menjadi larva, dilakukan pergantian air. Pada saat telur baru menetas larva ikan aligator masih memiliki kunig telur yang cukup besar. Kunig telur ini berperan sebagai cadangan makanan. Walaupun ikan aligator yang berukuran besar memiliki alat pernafasan tambahan, tetapi pada ukuran larva sampai ukuran 3 inci belum berkembang sempurna sehingga masih sangat tergantung pada oksigen yang tersedia di dalam air.
Pemberian artemia dilakukan sampai larva berumur seminggu. Larva ikan alligator berukuran besar sehingga harus diberi kutu air (Daphnia) dan larva ikan lainnya. Larva ikan yang dapat diberikan berupa larva ikan mas.
Meskipun ikan aligator tergolong ikan yang tahan terhadap lingkungan yang buruk, pergantian air tetap harus dilakukan. Menurut data (Muhammad Zairin, 2004) tingkat kelangsungan hidup larva masih rendah yaitu sebesar 50%.
Ikan Belida
Ikan ini sering dipanggil juga dengan nama belida,termasuk ikan non pendamai dan ganas.Namun kibaran ekornya yang seperti bendera membuat ikan ini diminati oleh hobiis.Silahkan lihat artikelnya!!!
- Varietas,Jenis,dan kelainan.
1.Clown Knife fish
2.Royal Clown Knife fish
3.Platinum Clown knife fish( Kelainan )
Royal Clown Knife fish:
gin :
Clown knife fish ditemukan di daerah Asia Tenggara termasuk Indonesia sendiri.
Scientific classification:
Kingdom :Animalia
Phylum :Chordata
Class :Actinopteryegii
Order :Osteoglossiformes
Family :Notopteridae
Genus :Chitala
Species :Chitala Chitala
Aquarium:
Ukuran aquariumnya harus cukup besar karena ikan ini akti bergerak,ornamennya dapat berupa Kayu dan akar kayu maupun tanaman pastikan tanaman dapat menancap atau diikat di kayu dengan kuat.Minimal aquariumnya ( PxLxT)100cm x 60cm x 45cm.
Gravel:
Jika tidak ingin menaruh tanaman sebaiknya memakai gravel batu-batuan yang telah tersedia di berbagai toko ikan hias,dan apabila tetap ingin memakai tanman sebaiknya mengikatnya di Kayu-kayu di dalam aquarium( bila ada ).
Food:
Makanan dapat berupa :ikan mas kecil,jangkrik dan makanan lainnya,dan beberapa udang.
Tankmates:
Ikan ini biasa menjadi tankmates Asian Arowana dan dapat di gabung dengan ikan-ikan yang ukurannya seimbang.Jangan di gabung dengan ikan pendamai karena dia akan mulai mengigiti sirip ikan walaupun ukuran berbeda jauh.
Penyakit:
1.White Spot.
Penyebab :Ich,dan air aquarium yang tak terjaga sumbernya.
Pencegahan:Menggunakan air yang bagus seperti air ledeng yang bebas parasit,menggunakan sinar ultraviolet.
Penyembuhan :Paling cepat diatasi dengan methlyn Biru.
Penyakit lainnya akan ditambahkan secepatnya!!!
Pengalaman Sendiri( Admin ):
Pengalaman saya sendiri tentang ikan ini,di aquarium saya ikan ini termasuk ikan yang aktif berkeliling aquarium,namun dia agak mundur( takut )setelah bertemu dengan gars dan Arowana.Tapi dia juga suka mengusili ikan-ikan kecil seperti silver dollar di tank saya ini.Termasuk ikan ganas saat mengejar mangsa seperti ikan-ikan kecil,dengan langsung memasukan seluruh badan mangsa ke mulutnya.
Salam.......
Silver Dollar
Silver Dollar (Metynnis schreltmuellerl)
Ikan silver dollar merupakan salah satu jenis ikan hias air tawar yang memiliki nilai ekonomis tinggi bukan hanya sebagai komoditi lokal, tetapi juga merupakan komoditi ekspor, sehingga ikan ini mempunyai potensi yang tinggi untuk dikembangkan sebagai ikan komersial.
Permasalahan yang timbul dalam pengembangan ikan ini diantaranya adalah penyediaan benih masih sulit. Salah satu penyebab sulitnya penyediaan benih ini adalah masih sulitnya ikan ini dipijahkan dalam wadah budidaya, derajat penetasan dan kelangsungan hidup larva rendah. Salah satu cara yang telah dilakukan untuk menanggulangi permasalah tersebut adalah pemijahan secra buatan dengan rangsangan hormonal. Cara tersebut akan diterangkan secara detail pada pembahasan berikut.
Deskripsi Ikan Silver Dollar
Ikan silver merupakan ikan introduksi yang didatangkan dari sungai amazon, amerika Selatan. Ikan ini termasuk kedalam famili Characidae. Bentuk badannya pipih dan panjangnya dapat mencapai 15 cm. Warna badan dan perutnya perak mengkilap dan agak keabu-abuan pada bagian punggungnya.
Jenis kelamin ikan ini relatif mudah dibedakan setelah dewasa dengan melihat sirip analnya. Sirip anal ikan silver dollar betina agak meruncing dibagian depannya dan berwarna jingga cerah atau merah menyolok bila telah matang gonad. Sedangkan ikan jantannya memiliki sirip anal yang bundar dibagian depannya dan berwarna jingga jika telah matang gonad, tetapi warna ini kurang mencolok dibandingkan dengan betinanya. Ikan ini termasuk herbivora, memakan daun-dauanan seperti selada air dan tanaman air lainnya yang berdaun lunak. Ikan silver dollar sudah dapat dipijahkan pada pH air 6.8-7.0 dengan suhu air 26-30 oC.
Pemeliharaan Induk
Pemijahan induk silver dollar jantan dan betina dilakukan secara terpisah dalam akuarium kaca yang berukuran cm yang ditempatkan pada ruangan tertutup. Pemeliharaan secara terpisah ini dimaksudkan agar ikan dapat matang gonad serentak dan tidak terjadi pemijahan liar yang tidak dikehendaki. Akuarium tempat pemeliharaan induk diisi air setinggi 35 cm serta diberi aerasi. Dalam satua kuarium dimasukkan sekitar 10 ekor induk. Untuk menjaga kualitas air pemeliharaan induk dilakukan pergantian air dua hari sekali sebanyak ¼ bagian atau tergantung kebutuhan.
Pemberian makanan kepada induk dilakukan dua kali sehari, yaitu pagi dan sore hari berupa larva Chironomus (chu merah) beku atau segar, atau cacing rambut yang diselingi dengan memberikan selada air. Induk ikan dipelihara hingga matang gonad atau siap dipijahkan.
Induk ikan silver dollar yang matang gonad dapat dilihat dari penampakan tepi sirip ekor yang berwarna merah tua kehitaman, operkulum (tutup insang) berwarna kemerahan, dan pada badan tepat dibelakang tutup insang terdapat dua bintik hitam. Bila induk betina kelihatan perutnya yang membesar (gendut).
Pemijahan ikan silver dollar dapat dilakukan secara alami, akan tetapi waktu terjadinya pemijahan tidak dapat diprediksi dengan baik sehingga relatif sulit untuk menentukan target produksi benih. Oleh karena itu, pemijahan ikan silver dollar ini perlu dilakukan dengan rangsangan hormon. Seperti pada pemijahan dengan rangsangan hormonal yang dijelaskan sebelumnya, induk-induk silver dollar yang akan disuntik ditimbang dahulu untuk mengetahui beratnya dan kemudian menentukan banyaknya hormon yang harus disuntikkan. Hormon yang umum dipakai untuk merangsang pemijahan ikan silver dollar adalah ovaprim. Penggunaan ekstrak kelenjar hipofisa ikan mas untuk menyuntik ikan silver dollar jarang dipakai, karena ukuran ini relatif kecil sehingga sulit menentukan dosis yang diberikan.
Dosis yang diberikan pada ikan silver dollar dengan menggunakan ovaprim yakni memakai dosis 0,7 ml/ kg bobot ikan. Penimbangan ikan diperlukan untuk mengetahui dosis yang digunakan. Untuk bobot yang berbeda dapat menggunakan sistem konversi berdasarkan dosis yang ada.
Untuk mengurangi stres, sebelum dilakukan penyuntikan, sebaiknya ikan dibius terlebih dahulu dengan menggunakan MS-222 dengan konsentrasi sekitar 100 mg perliter air. Setelah ikan dibius, diangkat dan kemudian diletakkan diatas gabus busa tebal. Dengan hati-hati ikan disuntik dibagian daging pungggung yang paling tebal. Diusahakan menggunakan jarum suntik yang paling kecil.
Setelah penyuntikan selesai, ikan dikembalikan lagi ke wadah pemijahan. Wadah pemijahan dapat berupa akuarium dengan ukuran cm atau bak beton yang diisi air sedalam 25 cm dan diberi tanaman air Hydrilla. Kedalam setiap wadah dimasukkan sepasang induk jantan dan betina. Air dalam wadah pwmijahan dinaikkan tingginya menjadi 35 cm setelah dilakukan penyuntikan kedua.
Penetasan Telur dan Pemeliharaan Larva/Benih
Setelah ikan memijah, ditandai dengan banyaknya telur yang tersebar didasar wadah pemijahan, kedua induk ikan diangkat dan dipindahkan kewadah pemeliharaan induk semula. Tanaman Hydrilla dalam akuarium juga diambil dan dibuang. Dan untuk mencegah serangan penyakit, kedalam wadah pemeliharaan induk yang selesai memijah ditambahkan 1-2 sendok garam dapur dan Methylene Blue 1 mg/l.
Telur-telur didalam wadah pemijahan dapat dibiarkan menetas diwadah tersebut, tetapi dapat juga dipindahkan atau disatukan kedalam wadah khusus untuk penetasan telur. Cara memindahkan telur harus dilakukan secara hati-hati agar telur tidak rusak. Pengambilan telur dari wadah pemijahan dapat dilakukan dengan menyiponya dengan selang dan telur yang keluar ditampung di baskon, kemudian telur-telur tersebut dimasukkan ke wadah penetasan.
Kualitas air penetasan tetap dijaga dengan cara mengganti airnya sebanyak 30% setiap hari. Bila telur-telur sudah menetas (sekitar 50-70 jam setelah pemijahan) dilakukan penyiponan terhadap telur-telur yang tidak berhasil menetas untuk menjaga kualitas air tetap baik.
Pemberian pakan kepada larva dilakukan setelah larva berumur 4 hari. Pakan yang diberikan ke larva berupa nauplii Artemia yang baru menetas. Frekuensi pemberian pakan dilakukan 3 kali sehari, pagi, siang dan sore hari. Setelahg benih agak besar, pakan yang diberikan berupa cacing rambut atau kutu air sampai ikan akan dijual. Selama pendederan ikan dapat dilakukan penjarangan kepadatan agar pertumbuhannya tidak terhambat. Pendederan ikan dilakukan di wadah yang lebih besar seperti akuarium berukuran cm atau bak beton cm.
Langganan:
Postingan (Atom)










